banner2.jpg

Goblog Media » Gray Area » Sepatu Bola To much happened

« Previous post | Next post »


Wednesday | 23 October 2002
Sepatu Bola To much happened

Sepatu Bola

To much happened to me the last week. Kebanyakan sih gak jauh dari urusan kerja dan terutama tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Tapi satu kejadian yang sampai sekarang belum bisa lupa waktu hari kamis minggu lalu.

Pagi-pagi di pasar minggu on the way to Depok, ada motor yang nabrak spion mobil gue. Karena keadaan jalan di depan terminal pasar minggu itu crowded banget, motor itu ada kesempatan buat kabur ninggalin gue. Gue kejar sekitar 100 meter ke depan akhirnya kesusul dan dipaksa minggir. Tipikal banget orang habis tabrakan, gak tahu mana yang salah atau benar, orang di motor itu begitu turun langsung pasang suara tinggi:

"Saya gak salah Pak! Saya tadi terpaksa menghindari orang nyebrang dan gak sengaja nyenggol mobil bapak."

"Lho apa-apaan nih? Saya aja yang ketabrak gak marah-marah duluan sama bapak, bapak jangan mulai duluan. Saya gak bakal apa-apain bapak. Cuma minta bapak tenang dan lihat tuh spion mobil saya hancur gara-gara bapak."

"Iya, tapi saya gak salah pak, saya kan..."

"Tunggu dulu pak, sudah saya bilang jagan sok emosi. Lihat yang jelas mobil saya, itu siapa yang nabrak? Terus saya gak suka cara bapak tadi kabur ninggalin saya. Mana tanggung jawab bapak?"

Bapak itu diam. Umurnya sekitar 45-an. Setelah dia tenang dan mau diajak ngomong, ketahuan kalo dia lagi buru-buru mau ke tempat kerjanya sebagai sopir yang baru setengah bulan. Rumahnya di Tebet. Sebenarnya dia takut karena benar-benar gak punya duit buat ganti kerusakan itu.

"Saya benar-benar gak punya uang pak", dia keluarin dompetnya yang totally kosong. "Lho kita bisa ambil di rumah bapak, saya pegangn KTP bapak." Lagi-lagi dia diam, rupanya dia gak bohong, benar-benar bokek. Dari kantong celananya dia ambil beberapa lembar receh, yang jumlahnya cuma 25 ribu buat beli bensin.

"Nih, saya cuma bawa uang segini, kalo bapak mau silakan ambil..."

"Wah ini mah kurang ajar, ngeledek dong. Masak diganti cuma 25 ribu?"

"Tapi saya benar-benar gak ada uang pak. Di rumah isteri saya juga gak pegang uang. Hari ini niatnya saya mau jual sepatu bola anak saya yang baru, buat nambah uang belanja isteri saya di rumah. Tuh dia sepatunya masih dibungkus..." Dia tunjuk plastik dan kotak sepatu yang tergantung di stang motornya.

Terus, yang awalnya dia sok galak, tiba-tiba mukanya berubah mau nangis. Shit! I hate this thing happened to me. Dia gak bohong. Tapi dia tetap salah dan gue minta dia mau tunjukin tanggung jawab dia dan minta maaf, gue gak peduli gimana caranya.

Akhirnya dia mau ngaku dan minta maaf. Sebagai tanggung jawab dari salahnya dia cuma punya barang sepatu bola yang mau di jual untuk uang belanja tadi. Well, sekarang gue punya sepatu bola, kekecilan sih. Soalnya itu ukuran buat anaknya. Gue gak tahu mau diapain itu sepatu.

Kejadian sepereti ini sering sekali terjadi di Jakarta. Maksud gue, suatu accident yang gak bisa total kita tuntut tanggung jawabnya. Pernah dengar kejadian-kejadian seperti ini dengan angkot misalnya. Walaupun sopir angkot itu salah karena nabrak, tapi mereka gak bakal bisa ganti kerusakan itu. Mau dikejar sampai gimana juga gak bisa. Makanya banyak orang yang emosi akhirnya langsung menghajar sopir-sopir itu.

Sebenarnya kalau peraturan hukum jalan itu jelas, kita bisa bawa orang-orang seperti ini ke polisi. Dan bila mereka gak bisa ganti, mereka harus ditahan. Tapi you know lah polisi di Jakarta... Basi...

Yah, shit happened sometimes...

October 23, 2002 8:00 AM